FAVOURITE

Blog Anak Muda

Kamis, 20 Januari 2011

RANCANG BANGUN MESIN PENETAS TELUR OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA8 MENGGUNAKAN SENSOR SHT 11

Imam Nurhadi1, Eru Puspita2
1Mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika, 2Dosen PENS-ITS
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Telp (+62) 031-59447280 .Fax (+62) 031-5946114
imam@student.eepis-its.edu
Eru@eepis-its.edu
Abstrak
Temperatur dan kelembaban merupakan 2
faktor utama (selain sirkulasi udara dan pemutaran
telur) yang menentukan keberhasilan penetasan
telur. Berdasakan referensi, temperatur optimal
dalam mesin tetas yaitu 38-39oC dan kelembaban
optimal yaitu 52%–55%RH. Namun kebanyakan
mesin penetas telur konvensional yang ada dipasaran
hanya memperhitungkan satu faktor saja yaitu
temperatur.
Sensor kelembaban dan temperatur SHT 11
memiliki banyak kelebihan yang membuatnya
menjadi pilihan yang tepat untuk aplikasi ini.
Pemilihan mikrokontroler yang menjadi otak
kontroler ini jatuh pada Atmel Atmega8 yang
memiliki performa dan fleksibilitas yang lebih tinggi
dibandingkan MCS-51. Untuk pemanas inkubator
digunakan 4 buah lampu dengan daya 20 Watt.
Ruangan inkubator juga dilengkapi dengan 2 buah
fan untuk sirkulasi udara.
Desain layout kontroler yang kompak dan
ruang inkubator modern yang dilengkapi mekanisme
pembalik telur secara otomatis memberi kemudahan
dalam pengoperasian mesin penetas telur ini. Mesin
tetas yang memiliki kapasitas maksimal 96 butir ini
telah diuji coba untuk menetaskan telur ayam dan
memiliki prosentase keberhasilan 89.1%, sedangkan
mesin tetas secara konvensional yang digunakan
sebagai pembanding memiliki prosentase
keberhasilan sebesar 81.59%.
Kata kunci: ATMega8, kelembaban, temperatur, SHT
11, mikrokontroler, inkubator
1. Pendahuluan
Seiring perkembangan dan pertumbuhan
penduduk yang sangat cepat di Indonesia ini
berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat
meningkat, pada khususnya akan kebutuhan daging
unggas maupun telurnya yang kaya akan sumber
protein utama. Hal itu harus diimbangi dengan
persediaan yang cukup untuk memenuhi
ketersediaan pangan, sehingga ketahanan pangan
yang mengandung protein tinggi tetap terpenuhi.
Salah satu jalan untuk mengatasinya yaitu dengan
menggantikan peran mesin penetas telur
konvensional yang ditingkatkan kemampuannya
menjadi mesin penetas telur yang otomatis
sehingga dalam proses penetasan telur menjadi
lebih mudah, hemat, dan praktis dengan hasil
penetasan yang lebih baik.
Telah dirancang dan dibuat suatu sistem
monitoring temperatur dan kelembaban suatu
ruangan (mesin penetas telur) yang otomatis
dengan menggunakan modul sensor SHT 11.
Sistem sensor yang digunakan berbasis pada sifat
polimer kapasitif untuk sensor kelembaban dan
bandgap untuk sensor temperatur. Seluruh aktifitas
pengontrolan sistem dilakukan olaeh
mikrokontroler ATMega8.
Seluruh aktivitas dari sistem tersebut
dikontrol secara On-Off sudah bisa dianggap cukup
untuk mengontrol suatu mesin penetas telur secara
otomatis oleh mikrokontroler. Dengan kontroler
tersebut diharapkan bisa didapatkan pengontrolan
suhu dan kelembaban yang diinginkan sehingga
2
dapat menetaskan telur menjadi bibit ayam yang
berkualitas unggul.
2. Dasar Teori
2.1 Sistem Penetasan Telur
Penetasan telur ayam kampung menjadi
popular di tingkat peternak kecil dan menengah
dan bahkan di tingkat rumah tangga untuk
dijadikan jenis petelur, pedaging atau untuk
menghasilkan unggas-unggas yang cantik untuk
dipelihara sebagai binatang piaraan, Karena ayam
kampong dikenal sebagai ayam yang memiliki
resistansi (ketahanan tubuh) yang lebih kuat
daripada ayam-ayam yang lain disamping itu rasa
daging ayam kampong jauh lebih nikmat daripada
ayam pedaging pada umumnya.
Akan tetapi, para peternak sampai saat ini
masih banyak yang menggantungkan untuk
mendapatkan bibit ayam yang berkualitas dari hasil
persilangan telur-telur galur unggul dan murni dari
breeder (perusahaan penetasan telur) besar.
Dari semua tahap-tahap penetasan telur ada 5 poin
utama yang harus diperhatikan pada incubator
mesin penetas telur, yaitu :
1. Suhu (Temperatur)
2. Kelembaban Udara (Humidity)
3. Ventilasi (Ventilation)
4. Pemutaran Telur (Egg Turning)
5. Kebersihan (Cleanliness).
2.2.1 Mikrokontroler ATMega8
Kontrol utama dari keseluruhan sistem
pada Proyek Akhir ini oleh mikrokontroler
ATMega8 yang merupakan bagian dari keluarga
mikrokontroler CMOS 8-bit buatan Atmel. AVR
mempunyai 32 register general-purpose,
timer/counter fleksibel dengan mode compare,
interrupt internal dan eksternal, serial UART,
programmable Watchdog Timer, dan mode power
saving.
Beberapa dari mikrokontroler atmel AVR
mempunyai ADC internal dan PWM internal. AVR
juga mempunyai In-Sistem Programmable Flash
on-chip yang mengijinkan memori program untuk
diprogram berulang-ulang dalam sistem
menggunakan hubungan serial SPI.
Kelebihan dari ATMega8 sehingga digunakan
sebagai kontrol utama adalah sebagai berikut :
Mempunyai performa yang tinggi
(berkecepatan akses maksimum 16MHz)
dan hemat daya
Memori untuk program flash cukup besar
yaitu 8K Byte
Memori internal SRAM sebesar 1K Byte
EEPROM sebesar 512 byte yang dapat
diprogram saat operasi
Port komunikasi SPI
Komunikasi serial standar USART
Tersedia 3 chanel PWM
Tersedia 3 chanel timer/counter (2 untuk 8
bits dan 1 untuk 16 bits)
2.3 Sensor
Sensor adalah peralatan yang digunakan
untuk merubah suatu besaran fisis menjadi besaran
listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian
listrik tertentu. Sensor yang digunakan dalam
sistem kontrol ini yaitu sensor SHT 11 yang
mampu mendeteksi nilai suhu dan kelembaban
tertentu.
2.3.1 Sensor SHT 11
SHT 11 adalah sebuah single chip sensor
suhu dan kelembaban relatif dengan multi modul
sensor yang outputnya telah dikalibrasikan secara
digital. Dibagian dalamnya terdapat kapasitif
polimer sebagai elemen untuk sensor kelembaban
relative dan sebuah pita regangan yang digunakan
sebagai sensor temperatur. Output kedua sensor
digabungkan dan dihubungkan pada ADC 14 bit
dan sebuah interface serial pada satu chip yang
sama.
Sensor ini menghasilkan sinyal keluaran
yang baik dengan waktu respon yang cepat. SHT
11 dikalibrasi pada ruangan dengan kelembaban
yang teliti menggunakan hygrometer sebagai
referensinya. Koefisien kalibrasinya telah di
programkan kedalam OTP memory. Koefisien
tersebut akan digunakan untuk mengkalibrasi
keluaran dari sensor selama proses pengukuran. 2-
wire alat penghubung serial dan regulasi tegangan
internal membuat lebih mudah dalam
pengintegrasian sistem. Ukurannya yang kecil dan
konsumsi daya yang rendah membuat sensor ini
adalah pilihan yang tepat, bahkan untuk aplikasi
yang paling menuntut. Didalam piranti SHT 11
terdapat suatu surface-mountable LLC (Leadless
Chip Carrier) yang berfungsi sebagai suatu
pluggable 4-pin single-in-line untuk jalur data dan
clock, blok diagram chip SHT 11 dapat dilihat pada
Gambar 2.1
Gambar 2.1 Blok diagram pada chip SHT 11
3
SHT 11 membutuhkan supply tegangan
2.4 dan 5.5 V. SCK (Serial Clock Input) digunakan
untuk mensinkronkan komunikasi antara
mikrokontroller dengan SHT 11. DATA (Serial
Data) digunakan untuk transfer data dari dan ke
SHT 11.
3. Perancangan dan Pembuatan
3.1 Perancangan dan Pembuatan Hardware
Untuk perangkat keras meliputi
pembuatan rangkaian hasil perancangan sistem
baik rangkaian penunjang maupun rangkaian
utama. Selain itu dibuat juga konstruksi secara
mekanik.
3.1.1 Sistem Mesin Penetas Telur
Gambar 3.1 adalah blok diagram sistem
yang menunjukkan hubungan antara
mikrokontroler ATMega8 sebagai pusat kontrol
dengan peripheral lainnya.
Gambar 3.1 Block diagram sistem penetas telur
Sistem utama pada mesin penetas telur
otomatis ini diatur oleh mikrokontroler. Input
mikrokontroler ini diperoleh dari sensor SHT 11
untuk mendapatkan nilai suhu dan kelembaban.
Data dari sensor tersebut akan ditampilkan nilainya
pada LCD. Ketika suhu terlalu tinggi, maka kipas
akan menyala dan lampu akan mati, sedangkan jika
suhu lebih rendah dari set point maka lampu
menyala kembali dan kipas akan mati. Disamping
itu Water Pump akan menyemprotkan air ke
busa/spons jika nilai kelembabannya lebih rendah
dari set point untuk menjaga kelembaban telur agar
telur tidak kering dan keras karena bisa
menghambat dalam penetasan telur ayam. Jika
kelembaban terlalu tinggi, maka kipas akan
menyala untuk menurunkan tingkat kelembaban
dan kipas akan mati jika sudah kelembaban sudah
normal.
3.1.2 Mikrokontroler ATMega8
ATMega8 merupakan bagian dari
keluarga mikrokontroler CMOS 8-bit buatan
Atmel. AVR mempunyai 32 register generalpurpose,
timer/counter fleksibel dengan mode
compare, interrupt internal dan eksternal, serial
UART, programmable Watchdog Timer, dan mode
power saving. Beberapa dari mikrokontroler atmel
AVR mempunyai ADC internal dan PWM internal.
AVR juga mempunyai In-Sistem Programmable
Flash on-chip yang mengijinkan memori program
untuk diprogram berulang-ulang dalam sistem
menggunakan hubungan serial SPI. Sedangkan
koneksi rangkaian ATMega8 dapat dilihat pada
Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Rangkaian ATMega8
3.1.3 Motor DC 24 Volt
Penggunaan motor DC lebih
menguntungkan apabila dibandingkan dengan
motor jenis lain karena motor DC lebih mudah
diatur kecepatannya dalam rentang yang lebar dan
karakteristik kopel putaran yang baik. Gambar 3.3
merupakan rangkaian driver motor DC 24V. Pada
motor DC ini diberikan suatu proteksi agar tidak
terjadi korsleting ppada rangkaian mikrokontroler
dengan menambahkan optocoupler NPN dengan
tipe 4N28 12 Volt dihubungkan dengan output
mikrokontroler pada port C.5 yang dilengkapi
dengan proteksi ganda dengan ditambahkan relay
12 Volt.
Gambar 3.3 Rangkaian driver motor DC
P
C
5
4
Pemutaran secara otomatis dengan
bantuan motor DC 24 Volt untuk memindahkan
posisi tray didalam mesin incubator agar terjadi
sudut 25 derajat untuk tiap-tiap waktu yang
ditetapkan secara berkesinambungan dan
bergantian sudutnya. Pemutaran telur sedikitnya
adalah 3 kali sampai 6 kali 24 jam sudah lebih dari
baik untuk mencegah embrio telur melekat pada
selaput membran bagian dalam telur. Akan tetapi
dalam mesin ini dibuat 6 kali perputaran motor
dalam sehari semalam.
Motor ini akan menggerakkan rak
sehingga rak ini akan berubah posisi sejauh 25.6°
dengan perhitungan sebagai berikut :
Gambar 3.4 Sistem pemutar rak telur
Pada Gambar 3.4 menunjukkan kondisi rak telur
dalam keadaan horizontal dengan kondisi motor
diam/berhenti.
Gambar 3.5 Sistem memulai pergerakan rak telur (CW)
Berdasarkan Gambar 3.5 dapat diketahui
gerakan rak telur yang naik dan turun sebesar 17.9°
dengan perputaran selama +/- 9 detik dalam 360
derajat. Sehingga dengan perputaran selama 9 detik
cukup pelan dalam perputaran rak telur sehingga
telur akan aman.
Yang menyebabkan perubahan sudut
adalah tuas dari poros motor. Sehingga perubahan
sudutnya adalah :
Perubahan sudut (q ),
18 .5
8
sin
q = -1
= sin
-1 0.432
= 25.6° (3.2)
3.1.4 LCD 2x16 Karakter
Penggunaan LCD difungsikan untuk
menampilkan kondisi temperatur, kelembaban, dan
kondisi aktuator-aktuatornya dalam inkubator pada
saat itu yang dilengkapi dengan tampilan waktu
berupa detik, menit, dan jam. Sehingga melalui
LCD dapat diketahui kondisi mesin pada proses
penetasan secara keseluruhan. Kondisi aktuator
tersebut dilambangkan dengan logika “0” dan “1”,
maksudnya jika logika “0” maka aktuator tersebut
mati (tidak menyala), sedangkan logika “1” berarti
aktuator tesebut sedang menyala (hidup).
3.1.5 Rangkaian Driver untuk Kontrol
Blower
Rangkaian ini menggunakan transistor
sebagai saklar dari mikrokontroler yang
dihubungkan pada port D.0 dan relay 12 Volt yang
dihubungkan ke aktuator (kipas). Blower yang
digunakan adalah kipas 12V DC berjumlah 2 buah
yang diletakkan di dalam mesin.
Gambar 3.6 Rangkaian driver blower
Rangkaian driver blower (kipas) pada
Gambar 3.6 dimaksudkan untuk menurunkan
temperatur dan atau kelembaban jika melebihi dari
setting point yang diinginkan, disamping itu juga
untuk meratakan temperatur dan kelembaban
dalam inkubator, sehingga kipas tersebut memiliki
fungsi ganda dan sangat penting dalam proses
penetasan telur. Jika temperatur dan atau
kelembaban lebih tinggi daripada set point maka
kipas akan menyala sampai temperetur dan atau
kelembaban sesuai dengan set point yang
diinginkan. Sehingga peran dari kipas ini sangat
penting dalam pengontrolan temperatur maupun
kelembaban dalam inkubator selama proses
penetasan telur berlangsung.
3.1.6 Rangkaian Driver Untuk Kontrol
Heater
Pada Gambar 3.7 tersebut juga
menggunakan transistor sebagai saklar dari
mikrokontroler yang dihubungkan pada port D.1
dan relay 12 Volt yang dihubungkan ke aktuator
(lampu) sebagai pemanas inkubator.
5
Gambar 3.7 Rangkaian driver heater
Standard untuk suhu dalam incubator
“penetasan” tipe forced air (dengan sirkulasi
udara) adalah 100°F–102°F. Suhu pada incubator
penetas (hatching) di set 1°F lebih rendah
dibandingkan dengan incubator “pengeram”
selama 3 hari sebelum penetasan.
Untuk pemanas inkubator menggunakan 4
buah lampu dengan total daya 20 Watt dengan
masing-masing lampu berdaya 5 Watt yang
dimaksudkan agar keadaan temperatur dalam
inkubator bersifat homogen (merata) sehingga
pemanasan telur akan sama pada semua daerah.
Dalam kasus sistem kontrol, temperatur T
adalah variabel yang akan dikontrol, dan nilai T
inilah yang diinginkan sebagai output. Kemudian
input kontrol adalah output dari pemanas listrik
(electric heater). Besarnya kalor sebagai input
kontrol selalu diatur dengan mengatur tegangan
yang diberikan ke pemanas. Jika pemanas
dimodelkan sebagai suatu beban resistif, maka
besarnya kalor per unit waktu adalah:
R
P V
h
h
2
= (3.3)
Dengan P adalah daya pemanas (watt), Vh adalah
tegangan efektif (volt) yang diberikan ke pemanas,
dan Rh adalah resistansi pemanas (ohm). Ini
menunjukkan bahwa energi listrik yang dikonversi
ke pemanas merupakan sebuah fungsi nonlinier
terhadap tegangan yang diberikan ke pemanas, dan
tidak dapat diperoleh transfer function yang
menunjukkan hubungan antara temperatur T
dengan tegangan input Vh. Namun telah
ditunjukkan bahwa besarnya temperatur dapat
diatur dengan mengatur besarnya tegangan yang
diberikan ke pemanas.
3.1.7 Sensor SHT 11
SHT11 adalah sensor digital untuk
temperatur sekaligus kelembaban pertama di dunia
yang diklaim oleh pabrik pembuatnya, Sensirion
Corp. Mempunyai kisaran pengukuran dari 0-
100% RH, dan akurasi RH absolute +/- 3% RH.
Sedangkan akurasi pengukuran temperatur +/-
0.4°C @ 25°C. Sensor ini bekerja dengan interface
2-wire. Aplikasi sensor ini pada data logging,
pemancar, automotive, perangkat instrumentasi dan
lain sebagainya. Untuk menghubungkan sensor 2
wire dengan mikrokontroler.
Gambar 3.8 berikut merupakan rangkaian
sensor kelembaban tipe SHT 11. Sensor SHT 11 ini
dikoneksikan pada Port C.1 sebagai transfer data
dan pada Port C.2 sebagai clock.
Gambar 38 Rangkaian sensor SHT 11
3.1.8 Rangkaian Driver Water Pump
Rangkaian pada Gambar 3.9
menggunakan transistor sebagai saklar dari
mikrokontroler yang dihubungkan pada port D.2
dan relay 12 Volt yang dihubungkan ke aktuator
(pompa air).
Gambar 3.9 Rangkaian driver water pump
PC.2
PC.1
6
3.1.9 Flowchart Mesin Penetas Otomatis
Flowchart sistem mesin penetas telur otomatis
pada Gambar 3.10.
Gambar 3.10 Flowchart sistem secara keseluruhan
4. Uji Coba dan Analisis
Pada bab ini akan dibahas tentang pengujian sistem
dan analisa berdasarkan bab perencanaan.
Pengujian ini meliputi :
Pengujian per blok meliputi pengujian
Power Supply, Motor DC 12V, Heater
(lampu), Blower (kipas), Pompa air,
Sensor SHT 11.
Pengujian hasil dari penetasan telur.
4.1 Pengujian Per Blok
4.1.1 Pengujian Power Supply
Power Supply sangat penting dalam
memberikan supply energi untuk menghidupkan
semua komponen elektronik yang membutuhkan
tegangan yang cocok dan stabil. Power Supply
yang digunakan disini adalah Power Supply 5
Ampere yang dibuat rangkaian output 12 Volt dan
5 Volt DC untuk memberikan input pada
mikrokontroler maupun komponen pendukung
yang lain.
Berdasarkan pengukuran Power Supply
dapat diketahui bahwa tegangan output terpasang
(tanpa beban) rata-rata 4.824Volt, sedangkan
tegangan output dengan beban rata-rata 4.7Volt.
Hal tersebut sudah cukup baik untuk tegangan
supply mikrokontroler kerena tegangan tersebut
tetap stabil.
Sedangkan berdasarkan untuk pengukuran
Power Supply 12Volt dapat diketahui bahwa
tegangan output terpasang (tanpa beban) rata-rata
15.155Volt, sedangkan tegangan output dengan
beban rata-rata 12.36Volt. hal tersebut sudah cukup
baik untuk tegangan supply aktuator-aktuator
seperti motor DC 24Volt maupun relay 12Volt
karena tegangan tersebut tetap stabil.
Sedangkan arus yang terukur pada Power
Supply adalah rata-rata sebesar 4.38 Ampere.
Sehingga memiliki akurasi rata-rata 87.6%, jadi
trafo tersebut sudah cukup bagus untuk digunakan
karena memiliki rugi-rugi hanya 12.4%.
4.1.2 Pengujian Motor DC 24 Volt
Penggunaan motor DC 24 Volt ini sebagai
pemutar rak telur sangat efektif digunakan. Rak
telur dapat berputar sendiri dengan energi mekanik
yang digunakan. Dengan demikian penggunaan
manusia sudah tidak diperlukan lagi. Efektifitas ini
juga berpengaruh pada segi biaya untuk tenaga
kerja.. Dengan perlakuan sperti ini ternyata akan
lebih tinggi pengaruhnya dalam peningkatan
prosentase pentasan. Perputaran rak telur dengan
motor DC 24 Volt untuk satu kali putaran
membutuhkan waktu +/- 9 detik, sehingga
perputaran tersebut sudah cukup pelan dalam
pemutaran rak telur demi keamanan telur agar telur
tidak akan mengalami keretakan ataupun pecah,
sehingga bibit ayam akan tetap terjaga dengan
aman.
Pemutaran secara otomatis dengan
bantuan motor DC 24 Volt untuk memindahkan
posisi tray didalam mesin incubator agar terjadi
sudut 25.6 derajat untuk tiap-tiap waktu yang
ditetapkan secara berkesinambungan dan
bergantian sudutnya. Pemutaran telur sedikitnya
adalah 3 kali sampai 6 kali 24 jam sudah lebih dari
baik untuk mencegah embrio telur melekat pada
selaput membran bagian dalam telur. Akan tetapi
dalam mesin ini dibuat 6 kali perputaran motor
dalam sehari semalam.
Pada saat motor berputar memiliki
tegangan terukur sebesar 12Volt, sedangkan pada
saat motor mati (tidak berputar) terukur tegangan
12.8Volt. Dengan tegangan separuh dari tegangan
terpasang pada motor DC 24Volt sudah cukup kuat
untuk memutar rak telur dengan kapasitas
maksimal yaitu 96 telur karena diberikan banyak
7
gear-box (11 gear-box) pada ujung rotornya untuk
memutar rak telur yang mampu menampung beban
maksimal 2.5 kilogram (kurang lebih 110 telur
ayam kampung).
4.1.3 Pengujian Heater (Pemanas)
Standard untuk suhu dalam incubator
“penetasan” tipe forced air (dengan sirkulasi
udara) adalah 38°C–39°C. Untuk pemanas
inkubator menggunakan 4 buah lampu dengan total
daya 20 Watt dengan masing-masing lampu
berdaya 5 Watt yang dimaksudkan agar keadaan
temperatur dalam inkubator bersifat homogen
(merata) sehingga pemanasan telur akan sama pada
semua daerah.
Pengujian respon suhu terhadap waktu
pada siang hari ternyata memiliki karakteristik
kenaikan suhu yang paling cepat daripada pagi hari
maupun malam hari yaitu membutuhkan waktu 27
menit untuk mencapai suhu set point maksimal
yaitu suhu 390C.
Berdasarkan data pengujian respon suhu
terhadap waktu pada malam hari ternyata memiliki
karakteristik kenaikan suhu lebih lama daripada
siang hari yaitu membutuhkan waktu 30 menit 19.5
detik untuk mencapai suhu set point maksimal
390C.
Berdasarkan data pengujian respon suhu
terhadap waktu pada pagi hari ternyata memiliki
karakteristik kenaikan suhu yang paling lama
daripada siang hari maupun malam hari yaitu
membutuhkan waktu 56 menit 10.5 detik untuk
mencapai suhu set point maksimal 390C.
4.1.4 Pengujian Blower (Kipas)
Penggunaan kipas ini dimaksudkan untuk
menurunkan temperatur dan atau kelembaban jika
melebihi dari setting point, disamping itu juga
untuk meratakan temperatur dan kelembaban
dalam inkubator, sehingga kipas tersebut memiliki
fungsi ganda dan sangat penting dalam proses
penetasan telur. Pada gambar 4.4 menunjukkan dua
buah kipas yang berfungsi untuk mengatur kondisi
suhu maupun kelembaban jika terjadi kenaikan
suhu maupun kelembaban melebihi setting pint.
4.1.5 Pengujian LCD
Pembacaan hasil sensor suhu dan
kelembaban (SHT 11) akan ditampilkan melalui
display LCD 16x2, dimana pada LCD tersebut juga
ditampilkan pewaktuan berupa jam maupun
monitoring aktuator-aktuatornya. Selain itu juga
dilengkapi dengan 3 tombol push button untuk
memberrikan nilai set point ataupun untuk
melakukan kontrol secara langsung (direct
control).
4.1.6 Pengujian Pompa Air
Penggunaan pompa air ini dimaksudkan
untuk menaikkan kelembaban dengan cara mensupplay
air, jika kelembaban kurang dari setting
point, sehingga peranannya sangat penting dalam
proses penetasan telur. Standard untuk kelembaban
relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator
“penetas” atau periode 18 hari pertama harus dijaga
pada 50–55 %. Dan 3 pada hari ke 19–21 sebelum
penetasan, kelembaban udara harus dinaikkan
menjadi 60-65%.
Kelembaban yang rendah menyebabkan
anak ayam sulit memecah kulit telur karena
lapisannya menjadi keras dan berakibat anak ayam
melekat/lengket di selaput bagian dalam telur dan
mati. Akan tetapi kelembaban yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan anak ayam didalam telur juga
sulit untuk memecah kulit telur.
4.1.7 Pengujian Sistem Sensor SHT 11
Sensor SHT 11 merupakan sensor yang
telah terkalibrasi dengan akurasi ±3,5 %. Penelitian
sebelumnya telah melakukan proses pengujian
sistem sensor SHT 11 dengan membandingkan
terhadap alat ukur temperatur dan kelembaban lain
yang mempunyai tingkat akurasi ±2,5 % yaitu
dengan TESTO 625.
Berdasarkan hasil pengamatan, selisih
pembacaan nilai RH rata-rata antara instrumen
dengan kalibrator hanya 0,19%, selisih pembacaan
rata-rata temperatur 0,23
4.1.8 Pengujian Hasil Penetasan Telur
Dari hasil beberapa kali percobaan baik
secara manual maupun otomatis, mesin penetas
telur ini sudah cukup bagus karena memiliki
tingkat keberhasilan penetasan diatas 75%. Pada
Tabel 4.1 diketahui bahwa jumlah telur yang
menetas adalah 78.18% dari 55 telur pada
percobaan penetasan secara manual pertama.
Tabel 4.1 Pengujian 1 penetasan secara manual
Pengujian 1 (55 telur)
Telur Menetas
Telur Tidak
Menetas
43 (78.18%)
12 telur
(21.82%)
Normal Cacat Mati
41 1 1
95.35% 2.33% 2.33%
Sumber : Hasil percobaan
Sedangkan pada percobaan secara manual
yang kedua pada Tabel 4.2 memiliki presentase
penetasan lebih tinggi yaitu 85 %, akan tetapi
memiliki nilai cacat dan kematian anak ayam
8
cukup tinggi, hal itu dimungkinkan karena belum
adanya pengontrolan pada kelembaban ataupun
suhu yang tidak akurat.
Tabel 4.2 Pengujian 2 penetasan secara manual
Pengujian 2 (60 telur)
Telur Menetas
Telur Tidak
Menetas
51 (85%)
9 telur
(15%)
Normal Cacat Mati
44 3 4
86.3% 5.9% 7.8%
Sumber : Hasil percobaan
Untuk hasil penetasan secara otomatis
ternyata memiliki tingkat keberhasilan yng lebih
tinggi yaitu 89.1% dari total 55 telur yang
ditetaskan dengan tingkat kecacatan dan kematian
bibit ayam yang lebih rendah. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Pengujian 1 penetasan secara otomatis
Pengujian 3 (55 telur)
Telur Menetas
Telur
Tidak
Menetas
49 (89.1%)
6 telur
(10.1%)
Normal Cacat Mati
47 1 1
95.92% 2% 2%
Sumber : Hasil percobaan
4.2 Pengujian Sistem Secara Keseluruhan
Pengujian sistem secara keseluruhan ini
dilakukan dengan menggabungkan semua peralatan
ke dalam sebuah sistem yang terintegrasi.
Tujuannya untuk mengetahui bahwa rangkaian
yang dirancang telah bekerja sesuai yang
diharapkan. Dari hasil pengujian selama proses dari
awal penetasan sampai telur menetas ternyata
kondisi peralatan masih tetap normal dan tidak
terjadi gangguan yang berarti, sehingga mesin
penetas telur ini sudah siap untuk diaplikasikan
dalam penetasan secara otomatis yang sesuai
harapan.
5. Kesimpulan
Setelah melakukan pengujian dan analisa data,
maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
1. Dengan adanya mesin penetas otomatis ini
memberikan kemudahan dalam proses
penetasan telur dibandingkan dengan cara
konvensional, sehingga menjadi lebih
praktis dan efisien.
2. Dengan pemanas 4 buah bohlam dengan
total 20 Watt untuk kapasitas 96 butir
menjadikan suatu mesin penetas telur
yang hemat energi dan efisien.
3. Dari hasil percobaan, tingkat keberhasilan
penetasan secara otomatis mencapai
89.1% dibandingkan dengan cara
konvensional 81%.
4. Pada hasil percobaan penetasan telur ini
mengatur suhu antara 38-390C dan
memperoleh keberhasilan penetasan yang
cukup tinggi yaitu sebesar 89.1%.
6. Daftar Pustaka
[1] Budiharto Widodo, Panduan Praktikum
Mikrokontroler AVR ATmega16, PT Elex
Media Komputindo, Jakarta, 2008.
[2} Nalwan, P A. (2003). Teknik Antarmuka dan
Pemrograman mikrokontroler AT89C51. PT
Elex Media Komputindo, Jakarta.
[3] Ogata, Katsuhiko, Teknik Kontrol Automatik
Jilid 1, diterjemahkan oleh Edi Leksono,
Erlangga, Jakarta, 1994.
[4] Subekti, Muhammad,”Pengembangan
Perangkat Lunak Berbasis Kecerdasan Buatan
Berbasis Kecerdasan Buatan untuk Analisis
Kondisi Ginjal Pasien”, Proceding Lokakarya
Komputasi dan Sains Nuklir X, BATAN,
1999.
[5] Syaikul Abid, Tugas Akhir Teknik Elektro
Universitas Udayana, Perancangan Mesin
Penetas Telur Berbasis Mikrokontroler
ATMEGA163, Juli 2006
[6] www.captain.at/electronic-atmega-sd-card.php
yang diakses pada 02/11/2008. jam 15:19:46
GMT.
[7] www.glory-farmcom/
mgt_telur/penetasan_mesin_tetas.htm yang
diakses pada 19/02/2008 jam 15:19 :46 GMT.
[8] www.sensirion.com/sensors/humidity/ – SHT
11 datasheets and info.htm yang diakses pada
19/02/2008 jam 15:19:46 GMT.
[9] www.tokomesin.com/
Mesin_Penetas_Telur_Mesin_Tetas_Telur_Al
at_Penetas.html yang diakses pada 11/02/2008
jam 10:06:08 GMT.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar